About these ads

Filosofi Sejarah Alat Musik Tradisional Sasando

Saturday, December 7th 2013. | tradisional

Apa kabar ngulik mania? Semoga anda semua sehat selalu. Kali ini kita masih akan membahas mengenai musik tradisional dari Indonesia. Tentu semua sudah mengetahui jika bangsa kita sangat kaya akan jenis alat musik yang beragam, mulai dari alat musik petik, tiup, hingga yang dipukul sekalipun semuanya lengkap kita miliki. Untuk kali ini kita akan mengenal lebih jauh tentang Filosofi Sejarah Alat Musik Tradisional Sasando yang berasal dari kawasan Nusa Tenggara Timur.

Sejarah Alat Musik Sasando

Asal Usul Alat Musik Sasando

Sasando, atau yang biasa disebut penduduk lokal sebagai Sasandu merupakan salah satu alat musik yang berasal dari kawasan timur Indonesia tepatnya di Pulau Rote, Provinsi Nusa tenggara Timur. Menurut cerita, alat musik Sasando telah ada sejak Pulau Rote masih menjadi bagian dari kerajaan di daerah tersebut. Konon Sasando adalah hadiah yang diberikan kepada seorang putri yang menginginkan sebuah alat musik dengan suara yang indah. Alkisah pemuda yang bernama Sangguana mendapatkan musibah ketika melaut hingga terdampar di sebuah pulau bernama pulau Ndana. Melihat orang asing terdampar di pulau mereka, penduduk setempat pun membawa Sangguana menghadap ke istana raja. Selama berada di istana, ternyata Sangguana menunjukkan bakat seni yang luar biasa hingga ia pun diizinkan untuk tinggal di istana raja. Semakin lama, bakat seni yang dimiliki Sangguana membuat Puteri raja terpikat dengan keahliannya dan meminta Sangguana untuk menciptakan sebuah alat musik yang belum pernah diciptakan dan dimainkan oleh orang lain. Sangguana menyanggupi permintaan sang Puteri tersebut, sampai tiba pada suatu malam ia bermimpi menciptakan sebuah alat musik dengan bentuk yang sangat indah dan ketika dimainkan alat tersebut menghasilkan suara yang sangat indah pula.

Setelah bermimpi tentang alat musik tersebut, Sangguana kemudian membuat sebuah alat musik berdasarkan impiannya. Sebuah alat musik yang terbuat dari bilahan bambu dan daun lontar pun dibuat Sangguana. Alat musik tradisional ini pun diberi nama “Sandu”. Ketika dimainkan dihadapan Puteri, Sangguana memainkan lagu yang ia beri nama “Sari Sandu”. Alat musik ini akhirnya diberikan kepada Puteri sebagai hadiah, dan kemudian diberi nama Depo Hitu yang memiliki makna sekali petikan, tujuh dawai bergetar.

Bentuk Unik Alat Musik Sasando

Dilihat secara sekilas pun, tidak akan ada yang bisa menyangkal jika Sasando memiliki bentuk unik yang menarik perhatian mata. Di daerah manapun akan jarang sekali kita temui alat dengan bentuk yang unik ditambah dengan suara yang indah. Keunikan itu terasa semakin nyata ketika mengetahui bahan yang digunakan untuk membuat alat musik Sasando adalah berupa bambu berbentuk bulat dan anyaman daun lontar. Ya, pohon lontar memang telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat di Pulau Rote. Hampir semua bagian dari mulai dari daun hingga batang pohon ini biasa dimanfaatkan penduduk setempat untuk berbagai keperluan seperti dijadikan tikar, sebagai pembungkus rokok, bahan untuk membuat topi, sandal, tuak, gula, hingga dijadikan atap rumah dan bahan bangunan. Dalam pembuatan Sasando, tentu daun lontar yang dijadikan pembungkus untuk menghasilkan resonansi dan memantulkan bunyi sangat diperlukan oleh para pengrajin Sasando.

Bunyi khas dan indah yang dihasilkan oleh Sasando biasa dipakai dalam acara-acara adat dan pesta rakyat masyarakat Pulau Rote. Sama seperti alat musik petik lainnya, nada yang dihasilkan oleh Sasando pun bisa mencerminkan berbagai suasana dan perasaan tergantung orang yang memainkannya. Untuk memainkan alat musik tradisional yang satu ini pun tidak bisa dibilang mudah ataupun sulit. Karena Sasando tidak memiliki kunci atau cord, maka sang pemain harus bisa menguasai nada2 yang terdapat dalam Sasando secara detail untuk bisa menghasilkan alunan melodi yang indah. Jika pemain Sasando cukup lihai dalam memainkan alat ini, maka irama yang keluar pun akan terasa indah untuk didengarkan.

Untuk memainkan Sasando, si pemain harus menggunakan dua tangan. Hal ini karena dawai Sasando yang melingkar di sekeliling bambu akan lebih mudah dijangkau dengan dua tangan. Selain itu, jumlah dawai yang berjumlah sekitar 36 buah membuat seorang pemain Sasando dituntut untuk bisa memainkan alat ini setidaknya dengan tujuh atau delapan jari.

Jenis-jenis Sasando

Kepopuleran Sasando tidak hanya diakui oleh masyarakat lokal maupun secara nasional, namun juga warga asing pun banyak yang mengapresiasi alat musik ini sebagai warisan budaya dari Pulau Rote. Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kini bahan dasar untuk membuat Sasando telah bervariasi bukan hanya dari bambu dan anyaman daun lontar saja. Jika dahulu jenis Sasando bisa dibedakan berdasarkan dawai yang dimiliknya, seperti Sasando Engkel yang memiliki 28 dawai, Sasando Dobel yang memiliki 56 hingga 84 dawai, ataupun jenis Sasando Biola yang secara umun bisa kita jumpai, saat ini bukan hanya itu jenis yang terdapat dari varian Sasando. Sekarang telah banyak juga dipasarkan Sasando elektrik yang terbuat dari material yang lebih kuat. Tujuan dibuatnya Sasando jenis ini tentu sebagai langkah untuk melestarikan Sasando lebih jauh lagi. Sasando elektrik dinilai lebih kuat dalam hal material karena tidak menggunakan daun lontar, yang dinilai mudah pecah dan berjamur. Selain itu bunyi yang dihasilkan tidak terbatas pada lembut atau kerasnya petikan sang pemain Sasando karena Sasando elektrik bisa digabungkan dengan alat penghasil suara lain seperti amplifier serta sound system lainnya.

Seperti halnya alat musik Angklung, Sasando merupakan suatu warisan budaya yang wajib untuk tetap dijaga keberadaannya. Tidak masalah jenis Sasando yang kita mainkan, yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai anak bangsa ini menjaga serta melestarikan kebudayaan asli negeri ini. Bukan hanya sekedar membaca dan mengenal apa itu Sasando, tapi mempelajari dan ikut mempromosikan  kepada lebih banyak orang tentang alat ini akan menjadi langkah kecil yang lebih berarti dibandingkan dengan hanya sekedar tahu dan paham, :).

Itulah sekilas mengenai Filosofi Sejarah Alat Musik Tradisional Sasando untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa kekayaan budaya negeri ini bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga dilestarikan dan terus digaungkan keberadaannya oleh kita semua. Jangan sampai kita baru mengenal kebudayaan negeri sendiri justru ketika ada negara lain yang ingin mencuri kebudayaan asli kita. Semoga ulasan ini bisa bermanfaat untuk kita semua, terima kasih telah berkunjung.

About these ads

tags: ,

Related For Filosofi Sejarah Alat Musik Tradisional Sasando