About these ads

Asal Usul dan Sejarah Alat Musik Angklung

Friday, December 6th 2013. | tradisional

sejarah alat musik angklungAngklung merupakan salah satu alat musik tradisional yang berasal dari daerah Jawa Barat. Keberadaannya diperkirakan telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Terdiri dari batang bambu yang dipillah menjadi dua bagian dengan diberi lubang pada bagian atasnya, Angklung akan mengeluarkan bunyi akibat benturan yang dihasilkan apabila digoyangkan. Meskipun tampilan serta penggunaannya terlihat sederhana, namun sebagai sebuah alat musik Angklung menjadi ciri khas dari kesenian masyarakat Sunda. Untuk lebih mengetahui lebih jauh tentang alat musik yang terbuat dari bambu ini, terlebih dulu mari telusuri mengenai Asal Usul dan Sejarah Alat Musik Angklung.

Asal Usul Alat Musik Angklung

Masyarakat Jawa Barat sujak zaman dahulu terkenal dengan iklim wilayahnya yang agraris. Sebagian besar warganya pun menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Dari sini muncul kepercayaan mengenai Dewi yang melindungi hasil panen warga serta menjauhkan dari bala bencana. Dewi yang dimaksud adalah Dewi Sri Pohaci atau yang juga disebut Nyai Sri Pohaci. Dewi Sri Pohaci digambarkan sebagai sosok yang melindungi panen warga Jawa Barat (dalam hal ini padi sebagai sumber kehidupan) agar bebas dari hama dan wabah penyakit. Untuk menghormati Dewi, maka masyarakat pun menyanyikan syair-syair yang dipersembahkan sebagai tolak bala agar sang Dewi melindungi tanaman mereka hingga musim panen tiba.

Untuk menguatkan syair-syair yang ditembangkan sebagai persembahan kepada Dewi Sri Pohaci, maka diciptakanlah struktur alat musik yang terbuat dari bambu. Tidak ada sumber yang cukup jelas yang mengetahui apakah bentuk alat musik angklung ini sama seperti sekarang ketika pertama kali diciptakan. Diperkirakan masyarakat Jawa Barat telah membuat alat musik tradisional ini sejak abad ke-12. Angklung dibuat dari bahan bambu yang banyak ditemui di daerah Jawa Barat seperti awi temen dan awi wulung. Sebagai alat musik yang mengiringi syair persembahan untuk Dewi Sri Pohaci, alat musik bambu ini digunakan ketika menjalankan ritual yang berhubungan dengan hasil bercocok tanam warga seperti upacara tolak bala, pada saat menanam benih padi, hingga ketika musim panen tiba. Seiring waktu, kepopuleran alat musik Angklung semakin luas hingga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Karena perkembangannya serta makin banyaknya orang mengenal Angklung terutama pada saat arak-arakan ketika merayakan hasil panen, Angklung tidak lagi sekedar menjadi pengiring untuk musik pada saat ritual bercocok tanam, tetapi telah mengalami perluasan menjadi sebuah kesenian yang dapat dimainkan oleh siapa saja.

Sejarah dan Perkembangan Alat Musik Angklung

asal usul alat musik angklung

Perkembangan alat musik Angklung dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat mengalami beberapa tahap sampai saat ini. Perkembangan ini menghasilkan jenis-jenis Angklung yang berbeda pada tiap masanya dan digunakan sesuai dengan kepentingan yang berbeda pula. Seperti misalnya jika pada zaman dahulu Angklung berfungsi sebagai pengiring syair dalam ritual setiap bercocok tanam, maka pada zaman kerajaan Sunda Angklung digunakan untuk menyemangati para prajurit yang akan pergi berperang. Beberapa jenis angklung yang dikenal hingga saat ini diantaranya :

Angklung Kanekes

Dinamai  dengan Angklung Kanekes karena jenis Angklung ini dimainkan oleh orang-orang di daerah Kanekes yang terletak di daerah Leuwidamar, Banten. Masyarakat yang tinggal di daerah ini juga biasa disebut sebagai orang Baduy, yang merupakan suku Sunda kuno yang masih memegang teguh prinsip-prinsip masyarakat Sunda zaman dahulu. Pada dasarnya tidak ada yang jauh berbeda baik dari segi bentuk maupun suara yang dihasilkan dari Angklung Kanekes ini. Namun ritual padi lah yang membuat Angklung Kanekes terasa begitu sakral bagi masyarakat daerah Kanekes dan sekitarnya. Angklung Kanekes hanya dimainkan pada saat-saat tertentu, seperti ketika pada saat menanam padi. Setelah itu, terdapat masa dimana tidak boleh memainkan Angklung sejak tiga bulan setelah padi ditanam hingga musim panen padi berikutnya datang. Selain itu, hanya orang-orang tertentu yang boleh membuat Angklung Kanekes ini, seperti masyarakat di daerah Kajeroan yang meluputi tiga desa yaitu Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana. Orang yang dipilih pun tidak sembarangan, hanya yang memiliki garis keturunan saja dan terdapat ritual khusus untuk pembuat Angklung jenis ini.

Angklung Gubrag

Gubrag, yang dalam bahasa Indonesia berarti terjatuh, merupakan jenis Angklung yang berkembang di daerah Cipining Bogor. Dinamakan sebagai Angklung Gubrag berdasarkan legenda yang berkembang di masyarakat sekitar tentang Dewi Sri yang terpikat dengan suara Angklung ini sehingga membuat tanaman padi yang semula sulit tumbuh menjadi melimpah karena Dewi Sri merasa terhibur dengan suara Angklung ini. Disebut Gubrag sebagai kiasan yang telah membawa Dewi mampu turun atau jatuh ke bumi untuk menyuburkan padi.

Angklung Bungko

Dinamakan Angklung Bungko sesuai dengan nama tokoh yang melestarikan alat musik tradisional ini yaitu Ki Gede Bungko atau dikenal juga dengan nama Syeh Bentong. Angklung ini digunakan untuk kesenian dalam menyebar luaskan pengaruh agama Islam kepada masyarakat di daerah Indramayu dan Cirebon. Bahkan nama salah satu desa di perbatasan kedua daerah tersebut juga bernama desa Bungko. Angkung Bungko diperkirakan telah dibuat sejak 600 tahun yang lalu. Yang mengagumkan dari pelestarian Angklung Bungko ini, bahkan versi pertama Angklung ini yang telah dibuat ratusan tahun yang lalu pun masih ada hingga saat ini, meskipun sudah tidak bisa dibunyikan lagi.

Angklung Dogdog Lojor

Angklung ini dinamai sesuai dengan jenis kesenian yang diiringinya. Kesenia Dogdog Lojor yang berkembang di masyarakat daerah sekitar Banten Selatan atau sekitar Gunung Halimun merupakan kesenian yang berkaitan dengan ritual padi. Pada perayaan Serah Taun biasanya diadakan pertunjukan ini di  tempat kediaman para sesepuh kampung. Seiring perkembangan, kesenian Angklung Dogdong Lojor tidak hanya ditampilkan pada acara ritual padi, tetapi juga pada perayaan-perayaan lainnya seperti upacara pernikahan, khitanan anak, hingga pesta adat lainnya. Instrumen yang terdapat dalan Dogdog Lojor diantaranya empat buah angklung berukuran besar dan dua buah dogdog lojor.

Angklung Badeng

Seperti pada kebanyakan daerah lain di Jawa Barat, Angklung Badeng pun asalnya digunakan sebagai ritual dalam menanam padi. Namun seiring perkembangan masyarakat, jenis Angklung yang berasal di daerah Malangbong Garut ini beralih fungi menjadi sarana hiburan dalam penyebaran agama Islam. Masuknya pengaruh Islam pada kehidupan masyarakat Jawa Barat sekitar abad ke 16 ikut membawa pengaruh bagi kesenian yang berkembang di masyarakat pada saat itu. Hal ini pun yang terjadi ketika kesenian dengan menggunakan Angklung Badeng dipergunakan sebagai sarana untuk menyebarkan syiar Islam lebih luas.

Angklung Buncis

Bisa disebut Angklung Buncis merupakan Angklung yang berada pada masa diantara akhir Angklung tradisional dan perkembangan Angklung Modern sekitar tahun 1940. Pada saat itu kebiasaan terhadap budaya-budaya lama mulai luntur dalam kehidupan masyarakat, sehingga fungsi Angklung pun murni menjadi sebuah kesenian yang bisa digunakan oleh banyak orang. Dinamakan Buncis, karena berhubungan dengan ritual Buncis yang lekat dengan penghormatan kepada padi, dan tradisi menyimpan padi didalam lumbung sebelum dijual oleh petani. Pada masa ini tempat penyimpanan padi seperti rumah2 penyimpanan dan lumbung pun mulai hilang dan beralih fungsi menjadi tempat lain, karena padi pun lebih banyak dijual langsung tanpa disimpan terlebih dahulu.

Angklung Modern

Masa Angklung Modern dimulai ketika seorang seniman Angklung asal Jawa Barat bernama Daeng Soetigna menciptakan tangga nada diatonis untuk alat musik tradisional Angklung. Bila sebelumnya Angklung dimainkan secara individu dan mengunakan skala tangga nada pentatonis, maka dengan modernisasi yang dilakukan Daeng Soetigna Angklung pun bisa dimainkan dengan ritme yang lebih kompleks dan luas. Dengan ketertarikan akan Angklung yang telah melekat sejak kecil, Pak Daeng dengan gigih terus mengembangkan Angklung agar bisa dengan mudah dipelajari dan lebih mudah untuk dimainkan oleh banyak orang. Hingga pada tahun 1946, kesenian Angklung Pak Daeng dipebolehkan untuk mengisi hiburan dalam perundingan Linggarjati. Dan puncaknya pada 1955 dimana kreasi Angklung Pak Daeng mendapat kehormatan untuk unjuk gigi dalam Konferensi berskala dunia yaitu Konferensi Asia Afrika di Bandung. Angklung Modern saat ini juga dikenal dengan nama Angklung Daeng atau Angklung Padaeng untuk menghormati jasa-jasa beliau yang telah mengembangkan Angklung hingga berkembang seperti sekarang ini.

Sejarah panjang Angklung tersebut sekiranya memberikan kita sebuah gambaran bahwa kesenian Angklung telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari adat istiadat dan kultur masyarakat Jawa Barat. Perubahan2 yang terjadi dengan Angklung pun seperti menjadi cermin perubahan yang terjadi pada masyarakat Jawa Barat khususnya dan Indonesia pada umumnya. Bukan hayan melestarikan Angklung, tetapi sebagai masyarakat Jawa Bara kita pun harus melestarikan alat musik tradisional Jawa Barat lainnya. Semoga kelestarian budaya dan Alat Musik Tradisional Angklung ini bisa tetap terjaga dengan baik dan tidak hilang tergerus zaman.

About these ads

tags: ,

Related For Asal Usul dan Sejarah Alat Musik Angklung